Sabtu, 03 Mei 2014

laporan


KULIAH KERJA LAPANGAN TEKNIK INSTRUMENTASI

Kunjungan Mahasiswa Biologi 2013 ke PG-PS Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta

LAPORAN  KKL

                                                  
Diajukan sebagai Laporan Kuliah Kerja Lapangan  PG-PS Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta



 





Disusun oleh :
Dafik Abayan
(13620086)
Fathiyya Nur Rachman
(13620088)
Yunita Izmatul
(13620102)
Ahmad Robitul Ubaid
(13620112)
Siti Lomrah
(13620120)


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
DAFTAR ISI

JUDUL ....................................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................ii
KATA PENGANTAR ...........................................................................................iii
DAFTAR ISI .........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
a.         Latar Belakang.............................................................................................1
b.        Identifikasi Masalah.....................................................................................2
c.         Maksud dan Tujuan Laporan KKL..............................................................2
d.        Kegunaan Laporan KKL..............................................................................3
e.         Kerangka Pemikiran ,,..................................................................................3
f.         Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL....................................................4
g.        Lokasi dan Waktu KKL...............................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
    2.1  Data Pengangguran di Indonesia..................................................................5
    2.2  P2G Baru Madukismo...................................................................................5
            2.2.1  Produk................................................................................................6
    2.3  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul............................................................10
2.3.2        UPT BPPTK LIPI..........................................................................10
            2.3.2 Hasil Produksi...................................................................................11
BAB III OBYEK KKL.........................................................................................14
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................43
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................44
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum  warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan laporan kuliah kerja lapangan (KKL) ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Laporan kuliah kerja lapangan (KKL) ini disusun agar pembaca dapat  Pengembangan " ilmu Sains dan Teknologi, yang kami sajikan berdasarkan  pengamatan secara langsung mengunjungi tempatnya. Laporan  ini di susun oleh kami dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya  laporan  ini dapat terselesaikan.
Laporan  ini memuat tentang “Proses Pengolahan Tebu  menjadi Butiran Gula dan Pengembangan  ilmu Sains dan Teknologi” yang sangat bermanfaat karena dapat  menambah ilmu pengetahuan. Walaupun  laporan  ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang bertanggung jawab terhadap mata kulioah Biologi  yaitu  Ibu Ainun Nikmati  Laily, M.Si, Ibu Kholifah Holil, M.Si, dr. Tias Pramesti Griana,  dan juga laboran, Mas  Zulfan dan Mas Ismail , yang telah membimbing selama kunjungan dan memberikan pegarahan. Semoga Laporan  ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Laporan ini memiliki kekurangan .

Malang, 03 Mei 204

Tim Penyusun
 

LEMBAR  PENGESAHAN

Judul               : Kuliah Kerja Lapangan Teknik Instrumentasi
Sub  Judul       : Kunjungan Mahasiswa Biologi 2013 ke PG-PS Madukismo
  dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
Dafik Abayan
(13620086)
Fathiyya Nur Rachman
(13620088)
Yunita Izmatul
(13620102)
Ahmad Robitul Ubaid
(13620112)
Siti Lomrah
(13620120)

Nama               :





Malang, 03 Mei 2014
Menyetujui,
                        Pembimbing,                                                   Mahasiswa,                                                    

             dr. Tias Pramesti Griana                                   Fathiyya Nur Rachman
NIP.                                                                        NIM. 13620088

           Disahkan oleh,
Instansi Tempat KKL,                                           Ketua Jurusan,

 

             Nama                                                     Dr. Evika Sandi Safitri, M. Si

       NIP.                                                                     NIP.




BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja, melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai  110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak. Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan 2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.

b.      Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.      Bagaimana memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Bagaimana mengetahui penelitian yang berada di luar kampus
3.      Bagaimana mengetahui laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus

c.       Maksud dan Tujuan Laporan KKL
                             Maksud dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
                             Tujuan dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.      Untuk memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Untuk mengetahui penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.      Untuk mengetahui laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
d.      Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.      Secara teoritis, KKL ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.      Secara aplikatif, pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di luar kampus
e.       Kerangka Pemikiran
                Kerangka pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:








 












f.       Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif, dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g.      Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga 17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo Yogyakarta.

































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Data Pengangguran di Indonesia

Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian. Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran  : tingkat pendidikan yang masih rendah, jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok masyarakat,

2.2.  P2G Madu Baru PT
 “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula ( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus.

2.1.2  Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.      Karbohidrat
Karbohidrat adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru. Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel. Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan pangan digolongkan menjadi dua:
a.       Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan (misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b.      Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam  saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa), polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase (tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan   maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)

Jenis gula
Tingkat kemnisan
Sukrosa (kristal)
1,0
Glukosa (cair)
0,7
Isoglukosa (cair)
1,0
Fruktosa (kristal)
1,2
Sorbitol (tepung)
0,5

Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir) maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2.      Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3.      Gula
Pabrik memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya. Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik, kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis. Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi (limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak menyebabkan ikan mati.
Dalam pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o   Masakan
o   Peragian
o   Penyuingan
Penjelasan Proses
-          Masakan
Tetes diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi kontaminasi dari bakteri lain.
-          Peragian
Dilaksanakan bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
-          Penyulingan
Adonan yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§  Kolom Maische
§  Kolom Reetifiser
§  Kolom Voorloop
§  Kolom Nochloop



2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.

v  Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut menggunakan trolly.

2.2.  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
2.2.1.  Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1.      Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981) mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran (inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994), kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya. Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu, memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole jantan yang sedang tumbuh.















































BAB III
OBYEK KKL

2.1.  PT  PG-PS  Madukismo
   2.1.1  Sejarah Perkembangan
PG-PS adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3 tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-          Pabrik Gula ( PG ) Madukismo
-          Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X, 35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah BUMN).
Maksud dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani sebagai mitra sejati.
MISI   :
1.       Menghasilkan gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat industri di Indonesia
2.       Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3.       Mengembangkan produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4.       Menempatkan karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
-          Desain awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
-          Tahun 1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
-          Tahun 1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
-          Tahun 2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
-          Tahun 1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
-          Tahun 2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1.       Komisaris Utama: GKR Pembayun
2.       Komisaris
-     Drs. H. Sumargono Kusumohadiningrat
-     Ir. H. Bambang Sumardiko
3.       Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4.       General Manager
-     Struktur Organisasi PT MADU BARU
-     Struktur Organisasi Penyelenggaraan




2.1.2  Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.


2.2  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
   2.2.1   Sejarah tentang UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
Pembentukan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan (stakeholders)
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti, merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan. Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading" saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele, tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI Yogyakarta.
            Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000.  Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com.  Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
            Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu, antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI - Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun, pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan. “Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya, teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran, mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan, kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,” pungkasnya.





















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
      (PT. MADU KISMO)
Kuliah kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei - September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung. Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut, transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat. Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat penjelasan tentang proses produksi.  Kami merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik  gula yang berhasil didirikan sebanyak 17 pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta.  Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas 28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar 75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang, karyawan managerial sebanyak 950 orang  dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti halnya kami.
Langkah-langkah pengolahan tebu menjadi butiran gula  yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:
            Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFjGkhrSzL-HaZSD6xLUpO3DEEmigbFfrq4GhtT4VXAo8hexn1SAlh6qHB8yiNYZG7bcpKczB1ZEI4M6ceKOMjSDzk4xC2mnSVUzmhyphenhypheni444M2sjuMS1QzGPfo3SY19i9atrpz3bbIeBKqO/s320/IMG10197.jpg
(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30% tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga menghasilkan listrik.  Selain itu digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah. Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh (yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai  serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester.  Dari hasil pengujian spesimen dilakukan analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up, hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Langkah-langkah Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler). sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.
Description: http://www.food-info.net/images/sugarextraction.jpg
(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan (efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.
Description: F:\KKL\P1060234.JPG
(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan “A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B” membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.



7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong (meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)

Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
           
1. Menumbuhkembangkan budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
 Disana terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium pangan
Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus. Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian, mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses, termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi, gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.
Description: F:\isi_gudeg_kaleng.jpg Description: F:\mangut (1).jpg Description: F:\tepung_tempe2.jpg

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed additive). Pemberian suplemen dan aditif pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan, daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program diseminasi dan implementasi IPTEK.
Description: F:\lemofit.jpg Description: F:\silase-1.jpg






BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
 Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.      Para mahasiswa dapat mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak. Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.      Berbagai macam penelitian yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.      Laboratorium yang berada di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga 2tahun.

5.2 Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
           
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING) DALAM DUNIA
           
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono  dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
           
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
           
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
           
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.


BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja, melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai  110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak. Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan 2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.

b.      Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.      Bagaimana memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Bagaimana mengetahui penelitian yang berada di luar kampus
3.      Bagaimana mengetahui laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus

c.       Maksud dan Tujuan Laporan KKL
                             Maksud dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
                             Tujuan dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.      Untuk memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Untuk mengetahui penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.      Untuk mengetahui laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
d.      Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.      Secara teoritis, KKL ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.      Secara aplikatif, pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di luar kampus
e.       Kerangka Pemikiran
                Kerangka pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:








 












f.       Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif, dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g.      Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga 17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo Yogyakarta.

































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Data Pengangguran di Indonesia

Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian. Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran  : tingkat pendidikan yang masih rendah, jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok masyarakat,

2.2.  P2G Madu Baru PT
 “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula ( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus.

2.1.2  Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.      Karbohidrat
Karbohidrat adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru. Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel. Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan pangan digolongkan menjadi dua:
a.       Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan (misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b.      Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam  saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa), polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase (tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan   maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)

Jenis gula
Tingkat kemnisan
Sukrosa (kristal)
1,0
Glukosa (cair)
0,7
Isoglukosa (cair)
1,0
Fruktosa (kristal)
1,2
Sorbitol (tepung)
0,5

Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir) maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2.      Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3.      Gula
Pabrik memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya. Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik, kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis. Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi (limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak menyebabkan ikan mati.
Dalam pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o   Masakan
o   Peragian
o   Penyuingan
Penjelasan Proses
-          Masakan
Tetes diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi kontaminasi dari bakteri lain.
-          Peragian
Dilaksanakan bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
-          Penyulingan
Adonan yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§  Kolom Maische
§  Kolom Reetifiser
§  Kolom Voorloop
§  Kolom Nochloop



2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.

v  Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut menggunakan trolly.

2.2.  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
2.2.1.  Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1.      Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981) mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran (inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994), kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya. Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu, memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole jantan yang sedang tumbuh.















































BAB III
OBYEK KKL

2.1.  PT  PG-PS  Madukismo
   2.1.1  Sejarah Perkembangan
PG-PS adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3 tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-          Pabrik Gula ( PG ) Madukismo
-          Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X, 35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah BUMN).
Maksud dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani sebagai mitra sejati.
MISI   :
1.       Menghasilkan gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat industri di Indonesia
2.       Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3.       Mengembangkan produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4.       Menempatkan karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
-          Desain awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
-          Tahun 1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
-          Tahun 1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
-          Tahun 2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
-          Tahun 1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
-          Tahun 2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1.       Komisaris Utama: GKR Pembayun
2.       Komisaris
-     Drs. H. Sumargono Kusumohadiningrat
-     Ir. H. Bambang Sumardiko
3.       Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4.       General Manager
-     Struktur Organisasi PT MADU BARU
-     Struktur Organisasi Penyelenggaraan




2.1.2  Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.


2.2  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
   2.2.1   Sejarah tentang UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
Pembentukan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan (stakeholders)
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti, merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan. Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading" saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele, tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI Yogyakarta.
            Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000.  Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com.  Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
            Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu, antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI - Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun, pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan. “Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya, teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran, mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan, kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,” pungkasnya.





















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
      (PT. MADU KISMO)
Kuliah kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei - September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung. Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut, transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat. Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat penjelasan tentang proses produksi.  Kami merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik  gula yang berhasil didirikan sebanyak 17 pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta.  Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas 28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar 75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang, karyawan managerial sebanyak 950 orang  dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti halnya kami.
Langkah-langkah pengolahan tebu menjadi butiran gula  yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:
            Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFjGkhrSzL-HaZSD6xLUpO3DEEmigbFfrq4GhtT4VXAo8hexn1SAlh6qHB8yiNYZG7bcpKczB1ZEI4M6ceKOMjSDzk4xC2mnSVUzmhyphenhypheni444M2sjuMS1QzGPfo3SY19i9atrpz3bbIeBKqO/s320/IMG10197.jpg
(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30% tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga menghasilkan listrik.  Selain itu digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah. Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh (yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai  serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester.  Dari hasil pengujian spesimen dilakukan analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up, hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Langkah-langkah Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler). sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.
Description: http://www.food-info.net/images/sugarextraction.jpg
(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan (efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.
Description: F:\KKL\P1060234.JPG
(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan “A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B” membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.



7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong (meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)

Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
           
1. Menumbuhkembangkan budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
 Disana terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium pangan
Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus. Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian, mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses, termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi, gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.
Description: F:\isi_gudeg_kaleng.jpg Description: F:\mangut (1).jpg Description: F:\tepung_tempe2.jpg

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed additive). Pemberian suplemen dan aditif pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan, daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program diseminasi dan implementasi IPTEK.
Description: F:\lemofit.jpg Description: F:\silase-1.jpg






BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
 Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.      Para mahasiswa dapat mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak. Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.      Berbagai macam penelitian yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.      Laboratorium yang berada di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga 2tahun.

5.2 Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
           
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING) DALAM DUNIA
           
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono  dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
           
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
           
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
           
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.


BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja, melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai  110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak. Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan 2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.

b.      Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.      Bagaimana memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Bagaimana mengetahui penelitian yang berada di luar kampus
3.      Bagaimana mengetahui laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus

c.       Maksud dan Tujuan Laporan KKL
                             Maksud dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
                             Tujuan dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.      Untuk memberikan gambaran kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.      Untuk mengetahui penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.      Untuk mengetahui laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
d.      Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.      Secara teoritis, KKL ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.      Secara aplikatif, pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di luar kampus
e.       Kerangka Pemikiran
                Kerangka pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:








 












f.       Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif, dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g.      Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga 17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan Alkohol Madukismo Yogyakarta.

































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Data Pengangguran di Indonesia

Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian. Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran  : tingkat pendidikan yang masih rendah, jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok masyarakat,

2.2.  P2G Madu Baru PT
 “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula ( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus.

2.1.2  Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.      Karbohidrat
Karbohidrat adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru. Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel. Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan pangan digolongkan menjadi dua:
a.       Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan (misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b.      Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam  saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa), polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase (tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan   maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)

Jenis gula
Tingkat kemnisan
Sukrosa (kristal)
1,0
Glukosa (cair)
0,7
Isoglukosa (cair)
1,0
Fruktosa (kristal)
1,2
Sorbitol (tepung)
0,5

Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir) maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2.      Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3.      Gula
Pabrik memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya. Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik, kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis. Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi (limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak menyebabkan ikan mati.
Dalam pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o   Masakan
o   Peragian
o   Penyuingan
Penjelasan Proses
-          Masakan
Tetes diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi kontaminasi dari bakteri lain.
-          Peragian
Dilaksanakan bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
-          Penyulingan
Adonan yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§  Kolom Maische
§  Kolom Reetifiser
§  Kolom Voorloop
§  Kolom Nochloop



2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.

v  Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut menggunakan trolly.

2.2.  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
2.2.1.  Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
                        Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1.      Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981) mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran (inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994), kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya. Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu, memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole jantan yang sedang tumbuh.















































BAB III
OBYEK KKL

2.1.  PT  PG-PS  Madukismo
   2.1.1  Sejarah Perkembangan
PG-PS adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3 tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-          Pabrik Gula ( PG ) Madukismo
-          Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X, 35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah BUMN).
Maksud dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani sebagai mitra sejati.
MISI   :
1.       Menghasilkan gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat industri di Indonesia
2.       Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3.       Mengembangkan produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4.       Menempatkan karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
-          Desain awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
-          Tahun 1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
-          Tahun 1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
-          Tahun 2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
-          Tahun 1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
-          Tahun 2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1.       Komisaris Utama: GKR Pembayun
2.       Komisaris
-     Drs. H. Sumargono Kusumohadiningrat
-     Ir. H. Bambang Sumardiko
3.       Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4.       General Manager
-     Struktur Organisasi PT MADU BARU
-     Struktur Organisasi Penyelenggaraan




2.1.2  Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.


2.2  UPT  BPPTK  LIPI Gunung  Kidul
   2.2.1   Sejarah tentang UPT BPPTK LIPI
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor 1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas. Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan laboratorium.
Pembentukan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan (stakeholders)
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti, merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan. Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading" saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele, tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI Yogyakarta.
            Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000.  Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com.  Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
            Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu, antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI - Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun, pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan. “Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya, teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran, mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan, kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,” pungkasnya.





















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
      (PT. MADU KISMO)
Kuliah kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei - September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung. Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut, transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat. Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat penjelasan tentang proses produksi.  Kami merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik  gula yang berhasil didirikan sebanyak 17 pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta.  Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas 28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar 75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang, karyawan managerial sebanyak 950 orang  dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti halnya kami.
Langkah-langkah pengolahan tebu menjadi butiran gula  yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:
            Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFjGkhrSzL-HaZSD6xLUpO3DEEmigbFfrq4GhtT4VXAo8hexn1SAlh6qHB8yiNYZG7bcpKczB1ZEI4M6ceKOMjSDzk4xC2mnSVUzmhyphenhypheni444M2sjuMS1QzGPfo3SY19i9atrpz3bbIeBKqO/s320/IMG10197.jpg
(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30% tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga menghasilkan listrik.  Selain itu digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah. Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh (yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai  serat penguat komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester.  Dari hasil pengujian spesimen dilakukan analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up, hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Langkah-langkah Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler). sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.
Description: http://www.food-info.net/images/sugarextraction.jpg
(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan (efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.
Description: F:\KKL\P1060234.JPG
(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan “A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B” membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”, sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum diolah di panci kristalisasi.



7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong (meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)

Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
           
1. Menumbuhkembangkan budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
 Disana terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium pangan
Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus. Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian, mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses, termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi, gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.
Description: F:\isi_gudeg_kaleng.jpg Description: F:\mangut (1).jpg Description: F:\tepung_tempe2.jpg

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed additive). Pemberian suplemen dan aditif pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan, daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program diseminasi dan implementasi IPTEK.
Description: F:\lemofit.jpg Description: F:\silase-1.jpg






BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
 Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.      Para mahasiswa dapat mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak. Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.      Berbagai macam penelitian yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.      Laboratorium yang berada di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga 2tahun.

5.2 Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
           
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING) DALAM DUNIA
           
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono  dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
           
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
           
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
           
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.