KULIAH KERJA LAPANGAN TEKNIK INSTRUMENTASI
Kunjungan Mahasiswa
Biologi 2013 ke PG-PS Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
LAPORAN KKL
Diajukan sebagai Laporan
Kuliah Kerja Lapangan PG-PS Madukismo dan UPT BPPTK LIPI
Yogyakarta
| |
Disusun oleh :
|
Dafik Abayan
|
(13620086)
|
|
Fathiyya Nur Rachman
|
(13620088)
|
|
Yunita Izmatul
|
(13620102)
|
|
Ahmad Robitul Ubaid
|
(13620112)
|
|
Siti Lomrah
|
(13620120)
|
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG
2014
DAFTAR ISI
JUDUL
....................................................................................................................i
LEMBAR
PENGESAHAN ...................................................................................ii
KATA
PENGANTAR ...........................................................................................iii
DAFTAR
ISI .........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
a.
Latar Belakang.............................................................................................1
b.
Identifikasi Masalah.....................................................................................2
c.
Maksud dan Tujuan Laporan KKL..............................................................2
d.
Kegunaan Laporan KKL..............................................................................3
e.
Kerangka Pemikiran ,,..................................................................................3
f.
Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL....................................................4
g.
Lokasi dan Waktu KKL...............................................................................4
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA............................................................................5
2.1
Data Pengangguran di Indonesia..................................................................5
2.2
P2G Baru Madukismo...................................................................................5
2.2.1
Produk................................................................................................6
2.3
UPT BPPTK LIPI Gunung
Kidul............................................................10
2.3.2
UPT BPPTK LIPI..........................................................................10
2.3.2 Hasil
Produksi...................................................................................11
BAB III OBYEK
KKL.........................................................................................14
BAB IV
PEMBAHASAN....................................................................................
23
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................43
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................44
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi
Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan laporan
kuliah kerja lapangan (KKL) ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin
penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Laporan kuliah kerja lapangan (KKL) ini disusun agar pembaca dapat
Pengembangan " ilmu Sains dan Teknologi, yang kami
sajikan berdasarkan pengamatan secara
langsung mengunjungi tempatnya. Laporan
ini di susun oleh kami dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran
dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
laporan ini dapat terselesaikan.
Laporan ini memuat tentang “Proses Pengolahan
Tebu menjadi Butiran Gula dan
Pengembangan ilmu Sains dan Teknologi”
yang sangat bermanfaat karena dapat
menambah ilmu pengetahuan. Walaupun
laporan ini kurang sempurna dan
memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih
kepada para dosen yang bertanggung jawab terhadap mata kulioah Biologi yaitu
Ibu Ainun Nikmati Laily, M.Si,
Ibu Kholifah Holil, M.Si, dr. Tias Pramesti Griana, dan juga laboran, Mas Zulfan dan Mas Ismail , yang telah membimbing
selama kunjungan dan memberikan pegarahan. Semoga Laporan ini
dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Laporan
ini memiliki kekurangan .
Malang, 03 Mei 204
Tim Penyusun
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Kuliah Kerja Lapangan
Teknik Instrumentasi
Sub Judul : Kunjungan Mahasiswa
Biologi 2013 ke PG-PS Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
|
Dafik Abayan
|
(13620086)
|
|
Fathiyya Nur Rachman
|
(13620088)
|
|
Yunita Izmatul
|
(13620102)
|
|
Ahmad Robitul Ubaid
|
(13620112)
|
|
Siti Lomrah
|
(13620120)
|
Nama :
Malang, 03 Mei 2014
Menyetujui,
Pembimbing, Mahasiswa,
dr. Tias Pramesti Griana Fathiyya Nur Rachman
NIP. NIM. 13620088
Disahkan oleh,
Instansi Tempat KKL, Ketua Jurusan,
Nama Dr. Evika Sandi Safitri, M. Si
NIP. NIP.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin
berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di
Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat
pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja,
melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka
pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan
bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai 110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat
pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen
dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan
juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada
akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan
mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak.
Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat
mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan
ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan
2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik
Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
b. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.
Bagaimana memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Bagaimana mengetahui
penelitian yang berada di luar kampus
3.
Bagaimana mengetahui
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
c. Maksud dan Tujuan Laporan KKL
Maksud
dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan
pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait
teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan
perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains
biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
Tujuan
dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.
Untuk memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Untuk mengetahui
penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.
Untuk mengetahui
laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam
penelitian diluar kampus
d. Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Secara teoritis, KKL ini
diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.
Secara aplikatif,
pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai
lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di
luar kampus
e. Kerangka Pemikiran
Kerangka
pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:
![]() |
|||
![]() |
|||
f. Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif,
dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g. Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga
17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan
Alkohol Madukismo Yogyakarta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Data Pengangguran di Indonesia
Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai
banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan
penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal
dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki
kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara
permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan
pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian.
Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran : tingkat pendidikan yang masih rendah,
jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok
masyarakat,
2.2. P2G Madu Baru PT
“Pabrik-Pabrik
Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula
( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik
ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola
gula dan alkhohol/spirtus.
2.1.2 Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang
dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.
Karbohidrat
Karbohidrat
adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber
energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru.
Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup
karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel.
Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan
pangan digolongkan menjadi dua:
a. Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang
dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini
meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida
dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida
lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan
(misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b. Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat
yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang
termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri
rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa),
polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam
disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa
terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase
(tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan
tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan
maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih
rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)
|
Jenis gula
|
Tingkat kemnisan
|
|
Sukrosa (kristal)
|
1,0
|
|
Glukosa (cair)
|
0,7
|
|
Isoglukosa (cair)
|
1,0
|
|
Fruktosa (kristal)
|
1,2
|
|
Sorbitol (tepung)
|
0,5
|
Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa
terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir)
maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri
dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2. Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah
organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di
Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan
hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak
membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability)
sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu
mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini
dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari
komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman
variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450.
sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3. Gula
Pabrik
memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih
yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya.
Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik,
kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu
diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah
rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan
ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi
kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi
degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru
dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses
lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah
mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis.
Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan
tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi
(limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak
menyebabkan ikan mati.
Dalam
pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o Masakan
o Peragian
o Penyuingan
Penjelasan Proses
- Masakan
Tetes
diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk
pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber
phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi
kontaminasi dari bakteri lain.
- Peragian
Dilaksanakan
bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama
berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
- Penyulingan
Adonan
yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat
penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§ Kolom Maische
§ Kolom Reetifiser
§ Kolom Voorloop
§ Kolom Nochloop
2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol
dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada
yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.
v Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan
mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan
alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah
ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut
menggunakan trolly.
2.2.
UPT BPPTK LIPI Gunung
Kidul
2.2.1. Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi
yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1. Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah
dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik
jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah
kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna
jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial
digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada
jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah
tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi
lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut
PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih
banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981)
mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah
mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor
yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap
jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat
makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan
tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di
pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki
daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia
besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran
(inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994),
kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami
padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan
rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen
sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya.
Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi
perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies
mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan
penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu,
memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada
tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan
mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat
kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan
organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole
jantan yang sedang tumbuh.
BAB III
OBYEK
KKL
2.1.
PT PG-PS Madukismo
2.1.1 Sejarah Perkembangan
PG-PS
adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai
saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini
satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun
pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3
tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada
tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula
Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang
dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah
Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan
Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan
Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu
Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-
Pabrik
Gula ( PG ) Madukismo
-
Pabrik
Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya
pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini
mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G
MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan
Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini
sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X,
35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah
BUMN).
Maksud
dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati
hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga
pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan
perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU
BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani
sebagai mitra sejati.
MISI :
1. Menghasilkan
gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat
industri di Indonesia
2. Menghasilkan
produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola
secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada
pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3. Mengembangkan
produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4. Menempatkan
karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan
pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
- Desain
awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
- Tahun
1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
- Tahun
1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
- Tahun
2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
- Tahun
1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
- Tahun
2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1. Komisaris
Utama: GKR Pembayun
2. Komisaris
- Drs.
H. Sumargono Kusumohadiningrat
- Ir.
H. Bambang Sumardiko
3. Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4. General
Manager
- Struktur
Organisasi PT MADU BARU
- Struktur
Organisasi Penyelenggaraan
2.1.2 Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk
gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan
kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.
2.2 UPT BPPTK
LIPI Gunung Kidul
2.2.1
Sejarah tentang UPT
BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
Pembentukan
UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan
peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang
berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi
agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara
optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung
jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan
(stakeholders)
Penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada
pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan
kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan
organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat
penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar
program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan
tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT
BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana
Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan
program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti,
merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik
dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa
Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km
dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur
kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak
perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa
sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa
Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan
sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan.
Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading"
saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele,
tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga
kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI
Yogyakarta.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat
guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu,
antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal
SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang
berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah
teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan
sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi
tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat
Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI -
Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air
merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun,
pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan
menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan
inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan.
“Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi
dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur
injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar
Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya,
teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan
pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk
dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan
teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi
baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan
air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki
kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran,
mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat
menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi
mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain
hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah
menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi
itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap
pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa
udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi
itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia
sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur
lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini
memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan
lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas
dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan
Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro
Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan,
kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi
kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu
penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,”
pungkasnya.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
(PT.
MADU KISMO)
Kuliah
kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat
yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah
Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT
tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan
tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses
pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran
proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena
pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi
gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan
dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei -
September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung.
Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut,
transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu
sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat.
Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut
menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat
penjelasan tentang proses produksi. Kami
merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan
halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta
pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan
kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas
dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh
Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik gula yang berhasil didirikan sebanyak 17
pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan
jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil
membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta. Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas
28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar
75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi
Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo
berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin
bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu
yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini
sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa
terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang,
karyawan managerial sebanyak 950 orang
dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas
terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas
yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa
sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT
yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa
ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti
halnya kami.
Langkah-langkah
pengolahan tebu menjadi butiran gula
yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:

(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada
proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada
kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih
tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa)
maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan
analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan
dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai
memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat
dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV
dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30%
tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah
akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah
kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas
dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga
menghasilkan listrik. Selain itu
digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak
tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar
dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako
diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo
Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan
limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah.
Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh
(yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang
banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat
ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah
pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan
kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya
dengan pemanfaatan sebagai serat penguat
komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka
penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik
dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan
pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan
bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester. Dari hasil pengujian spesimen dilakukan
analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis
yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak
ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu
membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi
volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up,
hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit
dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan
tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum
dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan
BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69
kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut
bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus
elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan
sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat
bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap
dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya
pelarut organik. Langkah-langkah
Tahap pertama
pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah
serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan
serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler).
sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit.
Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan,
serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya
bercampur di dalam gula.

(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15%
gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1
hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang
terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana
untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk
tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan
menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus
dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses
ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum
dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa
kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan
perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian
dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier).
Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga
padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih
mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam
penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur
tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang
manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan
(efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu
penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah
mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara
menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan
evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih
sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan
lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung
15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan
dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam
‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan
steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan
ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah
air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai.
Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam
sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan
induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan
menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan
dengan udara panas sebelum disimpan.

(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan
sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi
diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya
dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan
gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit,
sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi
dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw
sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan
“A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B”
membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal
juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik
melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan
untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk
pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B
untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama
daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk
pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak
dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct)
yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi
pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang
menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula
tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan
yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya
dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan
peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian
penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol
yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai
bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk
menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik
penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi
granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan
hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”,
sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat
ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk
menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat.
Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari
karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang
menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan
beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah
cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir
tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya
sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum
diolah di panci kristalisasi.
7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai
pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula
ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika
kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang
dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini
dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang
berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI
yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat
untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu
pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan
bangsa yang adil, cerdas, kreatif,
integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang
humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK
LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam
pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang
proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan.
Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan
daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong
(meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam
proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan
prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran
Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat
infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)
Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1. Menumbuhkembangkan
budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan
pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses
Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan
nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk
menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama
dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan
kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan
iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha
penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan
memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan
pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses
dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi
yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan
penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk
kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu
penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain
disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya
nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu
hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung
Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi
yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
Disana
terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium
pangan
Pembangunan ketahanan pangan di
Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang
pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi
seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman
dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum
mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat
gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam
ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia
merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi
masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber
pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi
keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat
memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian
dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan
siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya
ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai
masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan
peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus.
Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan
cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat
besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan
penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit
degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat
dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan
lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi
makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal
dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan
sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan
bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian,
mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat
bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional
untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan
yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu
kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih
mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan
makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses,
termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna
protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat
kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar
metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya
misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis
Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung
berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi,
gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut
menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di
masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki
tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar
bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat
bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat
menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil
ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan
aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas
merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun
ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan
baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah
kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan
pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed
additive). Pemberian suplemen dan aditif
pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun
sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap
konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi
pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan,
daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan
khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan
agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi
keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar
dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan
teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni
pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk
mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan
industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk
mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan
makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced
nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan
optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem
pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan
pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas
ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak
dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan
sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan
peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung
bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan
tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan
bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya
juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini
mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun
juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama
dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan
diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program
diseminasi dan implementasi IPTEK.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.
Para mahasiswa dapat
mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak.
Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam
laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat
membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.
Berbagai macam penelitian
yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan
untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.
Laboratorium yang berada
di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah
dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah
satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga
2tahun.
5.2
Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan
selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang
lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI
dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada
di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar
malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya
DAFTAR
PUSTAKA
Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit
Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING)
DALAM DUNIA
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono
dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin
berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di
Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat
pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja,
melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka
pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan
bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai 110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat
pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen
dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan
juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada
akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan
mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak.
Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat
mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan
ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan
2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik
Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
b. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.
Bagaimana memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Bagaimana mengetahui
penelitian yang berada di luar kampus
3.
Bagaimana mengetahui
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
c. Maksud dan Tujuan Laporan KKL
Maksud
dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan
pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait
teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan
perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains
biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
Tujuan
dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.
Untuk memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Untuk mengetahui
penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.
Untuk mengetahui
laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam
penelitian diluar kampus
d. Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Secara teoritis, KKL ini
diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.
Secara aplikatif,
pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai
lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di
luar kampus
e. Kerangka Pemikiran
Kerangka
pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:
![]() |
|||
![]() |
|||
f. Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif,
dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g. Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga
17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan
Alkohol Madukismo Yogyakarta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Data Pengangguran di Indonesia
Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai
banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan
penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal
dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki
kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara
permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan
pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian.
Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran : tingkat pendidikan yang masih rendah,
jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok
masyarakat,
2.2. P2G Madu Baru PT
“Pabrik-Pabrik
Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula
( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik
ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola
gula dan alkhohol/spirtus.
2.1.2 Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang
dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.
Karbohidrat
Karbohidrat
adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber
energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru.
Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup
karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel.
Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan
pangan digolongkan menjadi dua:
a. Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang
dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini
meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida
dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida
lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan
(misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b. Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat
yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang
termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri
rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa),
polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam
disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa
terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase
(tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan
tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan
maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih
rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)
|
Jenis gula
|
Tingkat kemnisan
|
|
Sukrosa (kristal)
|
1,0
|
|
Glukosa (cair)
|
0,7
|
|
Isoglukosa (cair)
|
1,0
|
|
Fruktosa (kristal)
|
1,2
|
|
Sorbitol (tepung)
|
0,5
|
Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa
terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir)
maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri
dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2. Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah
organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di
Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan
hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak
membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability)
sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu
mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini
dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari
komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman
variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450.
sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3. Gula
Pabrik
memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih
yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya.
Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik,
kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu
diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah
rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan
ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi
kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi
degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru
dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses
lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah
mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis.
Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan
tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi
(limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak
menyebabkan ikan mati.
Dalam
pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o Masakan
o Peragian
o Penyuingan
Penjelasan Proses
- Masakan
Tetes
diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk
pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber
phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi
kontaminasi dari bakteri lain.
- Peragian
Dilaksanakan
bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama
berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
- Penyulingan
Adonan
yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat
penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§ Kolom Maische
§ Kolom Reetifiser
§ Kolom Voorloop
§ Kolom Nochloop
2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol
dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada
yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.
v Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan
mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan
alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah
ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut
menggunakan trolly.
2.2.
UPT BPPTK LIPI Gunung
Kidul
2.2.1. Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi
yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1. Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah
dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik
jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah
kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna
jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial
digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada
jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah
tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi
lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut
PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih
banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981)
mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah
mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor
yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap
jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat
makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan
tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di
pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki
daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia
besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran
(inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994),
kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami
padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan
rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen
sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya.
Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi
perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies
mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan
penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu,
memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada
tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan
mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat
kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan
organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole
jantan yang sedang tumbuh.
BAB III
OBYEK
KKL
2.1.
PT PG-PS Madukismo
2.1.1 Sejarah Perkembangan
PG-PS
adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai
saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini
satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun
pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3
tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada
tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula
Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang
dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah
Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan
Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan
Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu
Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-
Pabrik
Gula ( PG ) Madukismo
-
Pabrik
Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya
pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini
mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G
MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan
Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini
sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X,
35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah
BUMN).
Maksud
dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati
hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga
pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan
perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU
BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani
sebagai mitra sejati.
MISI :
1. Menghasilkan
gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat
industri di Indonesia
2. Menghasilkan
produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola
secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada
pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3. Mengembangkan
produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4. Menempatkan
karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan
pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
- Desain
awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
- Tahun
1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
- Tahun
1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
- Tahun
2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
- Tahun
1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
- Tahun
2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1. Komisaris
Utama: GKR Pembayun
2. Komisaris
- Drs.
H. Sumargono Kusumohadiningrat
- Ir.
H. Bambang Sumardiko
3. Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4. General
Manager
- Struktur
Organisasi PT MADU BARU
- Struktur
Organisasi Penyelenggaraan
2.1.2 Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk
gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan
kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.
2.2 UPT BPPTK
LIPI Gunung Kidul
2.2.1
Sejarah tentang UPT
BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
Pembentukan
UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan
peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang
berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi
agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara
optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung
jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan
(stakeholders)
Penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada
pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan
kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan
organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat
penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar
program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan
tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT
BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana
Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan
program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti,
merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik
dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa
Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km
dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur
kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak
perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa
sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa
Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan
sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan.
Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading"
saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele,
tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga
kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI
Yogyakarta.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat
guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu,
antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal
SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang
berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah
teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan
sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi
tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat
Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI -
Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air
merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun,
pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan
menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan
inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan.
“Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi
dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur
injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar
Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya,
teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan
pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk
dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan
teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi
baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan
air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki
kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran,
mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat
menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi
mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain
hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah
menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi
itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap
pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa
udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi
itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia
sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur
lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini
memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan
lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas
dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan
Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro
Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan,
kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi
kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu
penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,”
pungkasnya.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
(PT.
MADU KISMO)
Kuliah
kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat
yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah
Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT
tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan
tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses
pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran
proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena
pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi
gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan
dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei -
September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung.
Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut,
transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu
sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat.
Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut
menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat
penjelasan tentang proses produksi. Kami
merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan
halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta
pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan
kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas
dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh
Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik gula yang berhasil didirikan sebanyak 17
pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan
jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil
membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta. Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas
28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar
75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi
Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo
berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin
bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu
yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini
sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa
terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang,
karyawan managerial sebanyak 950 orang
dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas
terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas
yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa
sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT
yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa
ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti
halnya kami.
Langkah-langkah
pengolahan tebu menjadi butiran gula
yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:

(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada
proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada
kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih
tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa)
maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan
analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan
dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai
memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat
dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV
dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30%
tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah
akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah
kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas
dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga
menghasilkan listrik. Selain itu
digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak
tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar
dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako
diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo
Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan
limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah.
Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh
(yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang
banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat
ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah
pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan
kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya
dengan pemanfaatan sebagai serat penguat
komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka
penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik
dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan
pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan
bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester. Dari hasil pengujian spesimen dilakukan
analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis
yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak
ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu
membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi
volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up,
hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit
dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan
tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum
dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan
BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69
kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut
bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus
elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan
sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat
bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap
dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya
pelarut organik. Langkah-langkah
Tahap pertama
pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah
serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan
serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler).
sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit.
Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan,
serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya
bercampur di dalam gula.

(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15%
gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1
hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang
terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana
untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk
tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan
menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus
dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses
ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum
dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa
kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan
perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian
dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier).
Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga
padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih
mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam
penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur
tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang
manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan
(efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu
penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah
mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara
menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan
evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih
sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan
lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung
15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan
dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam
‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan
steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan
ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah
air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai.
Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam
sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan
induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan
menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan
dengan udara panas sebelum disimpan.

(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan
sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi
diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya
dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan
gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit,
sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi
dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw
sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan
“A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B”
membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal
juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik
melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan
untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk
pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B
untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama
daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk
pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak
dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct)
yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi
pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang
menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula
tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan
yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya
dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan
peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian
penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol
yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai
bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk
menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik
penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi
granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan
hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”,
sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat
ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk
menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat.
Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari
karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang
menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan
beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah
cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir
tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya
sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum
diolah di panci kristalisasi.
7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai
pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula
ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika
kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang
dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini
dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang
berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI
yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat
untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu
pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan
bangsa yang adil, cerdas, kreatif,
integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang
humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK
LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam
pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang
proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan.
Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan
daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong
(meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam
proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan
prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran
Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat
infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)
Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1. Menumbuhkembangkan
budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan
pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses
Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan
nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk
menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama
dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan
kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan
iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha
penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan
memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan
pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses
dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi
yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan
penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk
kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu
penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain
disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya
nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu
hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung
Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi
yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
Disana
terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium
pangan
Pembangunan ketahanan pangan di
Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang
pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi
seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman
dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum
mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat
gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam
ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia
merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi
masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber
pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi
keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat
memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian
dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan
siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya
ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai
masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan
peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus.
Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan
cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat
besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan
penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit
degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat
dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan
lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi
makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal
dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan
sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan
bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian,
mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat
bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional
untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan
yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu
kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih
mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan
makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses,
termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna
protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat
kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar
metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya
misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis
Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung
berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi,
gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut
menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di
masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki
tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar
bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat
bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat
menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil
ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan
aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas
merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun
ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan
baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah
kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan
pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed
additive). Pemberian suplemen dan aditif
pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun
sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap
konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi
pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan,
daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan
khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan
agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi
keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar
dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan
teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni
pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk
mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan
industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk
mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan
makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced
nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan
optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem
pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan
pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas
ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak
dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan
sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan
peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung
bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan
tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan
bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya
juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini
mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun
juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama
dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan
diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program
diseminasi dan implementasi IPTEK.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.
Para mahasiswa dapat
mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak.
Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam
laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat
membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.
Berbagai macam penelitian
yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan
untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.
Laboratorium yang berada
di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah
dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah
satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga
2tahun.
5.2
Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan
selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang
lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI
dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada
di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar
malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya
DAFTAR
PUSTAKA
Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit
Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING)
DALAM DUNIA
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono
dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini semakin
berkurang, hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk di
Indonesia. Tidak sedikit pengangguran yang hingga saat ini masih belum dapat
pekerjaan, dan bukan terbatas pada orang-orang yang tidak berpendidikan saja,
melainkan pula orang-orang yang sudah menjadi sarjana.
Tribun news (6/11) menuliskan, dari badan pusat statistik BPS angka
pengangguran hingga saat ini sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan
bekerja 118,19 juta orang. Sedangkan orang yang bekerja mencapai 110,80 juta orang, dan kepala BPS Suryamin menjelaskan bahwa tingkat
pengangguran Terbuta (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 sebesar 5,92 persen
dan dibandingkan TPT agustus 2012 meningkat 6,14 persen
Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para mahasiswa dan
juga dosen sebagai pembimbing. Berawal dari sebuah pemikiran kecil yang pada
akhirnya dilaksanakan sebuah kunjungan ke tempat dimana para mahasiswa akan
mendapatkan gambaran mengenai lapaangan pekerjaan yang akan ia tempati kelak.
Tentu hal ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk dapat
mempersiapkan masa depannya mulai dari usia dini.
Dengan berbekal keseriusan untuk melaksanakan kegiatan
ini, maka jurusan merekomendasikan keberangkatan para mahasiswa biologi angkatan
2013 untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertempat di Pabrik
Gula dan Alkohol Madukismo dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
b. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan diadakannya KKL ini adalah:
1.
Bagaimana memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Bagaimana mengetahui
penelitian yang berada di luar kampus
3.
Bagaimana mengetahui
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian diluar kampus
c. Maksud dan Tujuan Laporan KKL
Maksud
dari dilaksanakannya KKL ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan
pengetahuan tambahan tentang Industri dan teknologi di bidang Industri terkait
teknik instrumentasi yang didapatkan di luar kampus sebagai upaya mendekatkan
perguruan tinggi dengan lembaga penelitian dalam menghasilkan sarjana sains
biologi yang dapat menjadi “Rahmatan Lil alamin”.
Tujuan
dari dilaksanakannya KKL ini adalah:
1.
Untuk memberikan gambaran
kepada para mahasiswa mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak
2.
Untuk mengetahui
penelitian apa saja yang berada di luar kampus
3.
Untuk mengetahui
laboratorium dan instrumen apa saja yang apa saja yang digunakan dalam
penelitian diluar kampus
d. Kegunaan Laporan KKL
Adapun manfaat yang didapat dengan diadakannya Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Secara teoritis, KKL ini
diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang diperoleh di PG-PA Madukismo
dan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
2.
Secara aplikatif,
pelaksanaan KKL ini dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai
lapangan pekerjaan para mahasiswa biologi kelak, dan pengetahuan menganai
laboratorium dan instrumen yang digunakan dalam penelitian atau produksi di
luar kampus
e. Kerangka Pemikiran
Kerangka
pemikiran dari diadakannya KKL ini adalah:
![]() |
|||
![]() |
|||
f. Metode Penelitian dalam Pelaporan KKL
Metode penelitian dalam pelaporan KKL ini adalah metode deskriptif,
dimana penyajian informasi akan digambarkan secara deskriptif dan menyeluruh.
g. Lokasi dan Waktu KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini diadakan pada tanggal 15 hingga
17 April 2014 yang bertempat di UPT BPPT LIPI Yogyakarta serta Pabrik Gula dan
Alkohol Madukismo Yogyakarta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Data Pengangguran di Indonesia
Detikfinance.com(16/01/14), Bank dunia menilai
banyak teanga kerja (formal dan informal) di Indonesia yang bekerja dengan
penuh keterpaksaan. Banyak para pekerja tanpa memiliki kontrak secara legal
dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 38% pekerja yang tidak memiliki
kontrak di sektor formal. Sedangkan hanya 8% yang memilioki kontrak secara
permanen, setengah permanen dan pegawai tetap. Sisanya sekitar 54% merupakan
pekerja informal yang sudah pasti tak ada kontrak terutama disektor pertanian.
Faktor penyebab meningkatnya tingkat pengangguran : tingkat pendidikan yang masih rendah,
jumlah penduduk yang terus bertambah, bencana alam dan konflik antar kelompok
masyarakat,
2.2. P2G Madu Baru PT
“Pabrik-Pabrik
Gula Madu Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik yaitu, Pabrik Gula
( PG ) Madukismo, dan Pabrik Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo Dulunya pabrik
ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini mengelola
gula dan alkhohol/spirtus.
2.1.2 Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi yang
dikembangkan oleh PG-PA Madukismo.
1.
Karbohidrat
Karbohidrat
adalah zat gizi yang berupa pati atau gula yang berfungsi sebagai sumber
energi. Glukosa adalah sumber energi utama bagi jaringan syaraf dan paru-paru.
Karbohidrat merupakan zat gizi sumber energi paling penting bagi makhluk hidup
karena molekulnya menyediakan unsur karbon yang siap deigunakan oleh sel.
Berdasarkan sifat ketersediaannya, karbohidrat yangg terkandung dalam bahan
pangan digolongkan menjadi dua:
a. Karbohidrat tersedia adalah karbohidrat yang
dapat dicerna atau diserap serta dimetabolisasi dalam tubuh. Kelompok ini
meliputi monosakarida (misalnya glukosa, fruktosa dan galaktosa), disakarida
dan oligosakarida (misalnya sukrosa, laktosa, maltosa, trehalosa, dan oligosakarida
lain yang sejenis dengan maltosa dan isomaltosa), dan polisakarida glukan
(misalnya pati, dekstrin, dan glikogen)
b. Karbohidrat tidak tersedia adalah karbohidrat
yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzi-enzim yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia. Karbohidrat yang
termasuk dalam kelompok ii adalah oligosakarida yang tergolong sebagai seri
rafinosa (rafinosa, stakhiosa dan verbakosa), polisakarida glukan (selulosa),
polisakarida turunan (hemiselulosa, lignin, gum, pektin) serta beberapa macam
disakarida misalnya laktulosa.
Glukosa
terdapat banyak dalam buah-buahan, sayur-sayuran madu, sirup jagung dan molase
(tetes tebu). Fruktosa dan galaktosa mempunyai rumus formula yang sama, akan
tetapi fruktosa lebih manis dibandingkan
maupun sukrosa, sedangkan tingkat kemanisan galaktosa sedikit lebih
rendah dari glukosa(Muchtadi.2009:8)
|
Jenis gula
|
Tingkat kemnisan
|
|
Sukrosa (kristal)
|
1,0
|
|
Glukosa (cair)
|
0,7
|
|
Isoglukosa (cair)
|
1,0
|
|
Fruktosa (kristal)
|
1,2
|
|
Sorbitol (tepung)
|
0,5
|
Seperti yang telah disebutkan diatas, sukrosa
terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit fruktosa. Gula putih (gula pasir)
maupun gula merah (gula batok) yang diproduksi dari tebu hampir 100% terdiri
dari sukrosa(Muchtadi.2009:9).
2. Tebu
Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah
organik yang banyak dihasilkan di pabrik-pabrik pengolahan gula tebu di
Indonesia. Serat ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan
hasil limbah pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak
membahayakan kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability)
sehingga nantinya dengan pemanfaatan sebagai serat penguat komposit mampu
mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka penelitian ini
dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan impak dari
komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan pola anyaman
variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan bersilangan 450.
sebagai penguat matrik resin polyester(Yudo,2008:95).
3. Gula
Pabrik
memilih bibir yang unggul sehingga gula yang dihasilkan bagus. Pada saat pemnenan tebu dipilih
yang segar dan manis jika ada yang terbakar dikembalikan kepada pemiliknya.
Setelah sampai ke losmen dimasukkan ke trolly baru dibawa masuk kedalam pabrik,
kemudian dimasukkan ketempat pencacahan tebu hingga jadi sabut. Seeleh itu
diperas sampai 5 kali pemerasan akhir pemerasan usahakan kadar gurlanya sedah
rendah. Ampasnya tidak dibuang melainkan digunakan untuk pembangkit listrikdan
ada yang digunakan untuk pupuk organic. Lalu nira diuapkan hingga menjadi
kental kemudian baru proses pengkristalan. Tapi saat iyu kristal masih dilapisi
degnan maghma atau bercampur dengan mulasis. Setelah proses itu selesai baru
dibungkus didalam karung 50 kg dan 1 kg. mulasis yang sudah tidak bis diproses
lagi jadi gula kemudian dikirim kepabrik alcohol. Bahan baku alcohol adalah
mulasis. Alkohol digunakan untuk campuran bahan kosmetik dan alat-alat medis.
Sedangkan spirtus digunakan untuk bahan bakar kompor. Cara pemasaranya menggunakan
tangki dan drum-drum yang disegel. Bahan yang sudah tidak digunakan lagi
(limbah) diolah dahulu sebelum dibuang kealiran sungai sehingga limbah tidak
menyebabkan ikan mati.
Dalam
pembuatan gula memiliki 3 tahap yaitu:
o Masakan
o Peragian
o Penyuingan
Penjelasan Proses
- Masakan
Tetes
diencerkan degnan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk
pertumbuhan ragi. Sebagai sumber nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber
phospor dipakai pupuk NPK, pH diatur sekitar 4,8 degnan H2SO4 agar terjadi
kontaminasi dari bakteri lain.
- Peragian
Dilaksanakan
bertahap mulai isi3.101, 18.000 liter dan 75.000 liter, waktu peragian utama
berkisar 40-50 jam dan kadar alcohol yang dicapai antara 9-10%.
- Penyulingan
Adonan
yang telah selesai diragikan, dipisahkan alcoholnya (disuling) dalampesawat
penyulingan yang terdiri dari 4 kolom:
§ Kolom Maische
§ Kolom Reetifiser
§ Kolom Voorloop
§ Kolom Nochloop
2. Alcohol dan Spirtus
Alcohol
dan spirtus pemasaranya diatur sendiri oleh perusahaan melalui distributor. Ada
yang berasal dari Jakata, Tegal, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta.
v Alat Dan Mesin Yang Digunakan
Alat dan
mesin yang digunakan utuk membuat gula dan alcohol/spirtus sekarang menggunakan
alat-alat yang modern tapi alat-alat yang dulu masih disimpan. Tebu yang sudah
ditebang diangkut menggunakan truk tapi hanya 0% saja yang 20%nya diangkut
menggunakan trolly.
2.2.
UPT BPPTK LIPI Gunung
Kidul
2.2.1. Sejarah UPT BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
2.2.2 Hasil Produksi
Berikut ini adalah beberapa hasil produksi
yang dikembangkan oleh UPT BPPTK LIPI Yogyakarta.
1. Pakan Ternak
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang terdapat dalam jumlah melimpah
dan mudah diperoleh untuk dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Karakteristik
jerami padi ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar dan rendah
kandungan nitrogen, kalsium serta fosfor. Hal ini mengakibatkan daya cerna
jerami padi rendah dan konsumsi menjadi terbatas, akan tetapi masih potensial
digunakan sebagai sumber energi (LENG, 1980). Daya cerna yang rendah pada
jerami padi merupakan akibat struktur jaringan penyangga tanaman yang sudah
tua. Jaringan tanaman ini sudah mengalami proses lignifikasi, terjadi
lignosellulosa dan lignohemisellulosa yang sulit dicerna (DJAJANEGARA, 1985). Menurut
PIGDEN dan BENDER (1972) dan JACKSON (1977), lignin merupakan faktor yang lebih
banyak mempengaruhi daya cerna dari jerami tanaman umumnya. VAN HOUSERT (1981)
mengatakan bahwa jaringan penyangga dari jerami padi yang sudah tua yang sudah
mengalami proses lignifikasi dan tingginya kandungan silikat merupakan faktor
yang menjadikan rendahnya daya cerna jerami padi. Berbagai perlakuan terhadap
jerami padi telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kandungan zatzat
makanannya, antara lain dengan perlakuan alkali (DJAJANEGARA, 1985), urea dan
tetes (HARTUTIK, 1985). Namun hal ini relatif masih sulit bagi petani ternak di
pedesaan karena harganya relatif cukup mahal. Salah satu cara untuk memperbaiki
daya guna jerami padi dengan meningkatkan daya cernanya pada ternak ruminansia
besar adalah melalui pembuatan silase (pengawetan) dengan bahan campuran
(inokulum) cairan rumen kerbau. Menurut WINUGROHO et al. (1994),
kemampuan kombinasi cairan rumen kerbau dengan domba mencerna substrat jerami
padi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan masing-masing cairan
rumen. THALIB et al. (1994) melaporkan bahwa penambahan cairan rumen
sapi dalam pembuatan silase jerami padi dapat meningkatkan kecernaannya.
Pengaruhnya terhadap peningkatan nilai ketercernaan diduga karena terjadi
perubahan populasi dan kombinasi mikroba serta interaksi positif antar spesies
mikroba dari jenis ternak yang berbeda. Pembuatan silase jerami padi dengan
penambahan cairan rumen yang disimpan selama 0, 2, 4, 8, dan 12 minggu,
memberikan hasil yang terbaik pada penyimpanan selama 2 minggu yaitu pada
tingkat pH, kandungan asam laktat dan asam lemak terbang total (THALIB, 1994).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh pakan silase jerami padi yang ditambahkan
mikroba rumen kerbau yang disimpan (diawetkan) selama 2 minggu terhadap tingkat
kecernaan zat-zat makanan dan konsumsi tercerna dari bahan kering, bahan
organik, protein kasar, lemak kasar dan NDF ransum pada sapi Peranakan Ongole
jantan yang sedang tumbuh.
BAB III
OBYEK
KKL
2.1.
PT PG-PS Madukismo
2.1.1 Sejarah Perkembangan
PG-PS
adalah satu diantara 17 pabrik yang didirikan oleh Belanda dan berdiri sampai
saat ini karena yang lainnya telah dibumi hanguskan oleh Jepang. Pabrik ini
satu-satunya yang memproduksi gula dan alkhohol/spirtus. Pabrik ini dibangun
pada tahun 1955 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono IX. Setelah kurang lebih 3
tahun berdiri baru dilaksanakan peresmian oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada
tanggal 29 Mei 1958.
PT Madu Baru dibangun di atas lokasi Bangunan Pabrik Gula
Padokan (satu diantara dari 17 Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta yang
dibangun Pemerintah Belanda, tetapi di bumi hanguskan pada masa Pemerintah
Jepang), yang terletak di Desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan
Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Status dari perusahaan ini adalah Perseroan
Terbatas, didirikan tanggal 14 Juni 1955 diberi nama: “Pabrik-Pabrik Gula Madu
Baru PT”( P2G Madu Baru PT ), memiliki dua pabrik :
-
Pabrik
Gula ( PG ) Madukismo
-
Pabrik
Alkohol/Spirtus ( PS ) Madukismo
Dulunya
pabrik ini hanya memproduksi gula, tapi mulai tahun 1959 hingga saat ini
mengelola gula dan alkhohol/spirtus. Tanggal 14 juni 1955 memiliki nama P2G
MADU BARU PT. saat itu yang memegang saham terbanyak dimilki Sri Sultan
Hamangku Buwono IX yaitu 75%, sedangkan 25%nya milik pemerintah RI. Saat ini
sudah dirubah kepemilikan saham menjadi 65% milk Sri Sultan Hamagku Buwono X,
35 % milik pemerintah (dikuasakan pada PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, sebuah
BUMN).
Maksud
dan tujuan didirikannya pabrik yaitu agar masyarakat Indonesia bisa menikmati
hasil pertanian dalam negri tidak hanya produk-produk dari luar. Sehingga
pabrik tetap dipertahankan meskipun dulu pernah ada pilihan yang mengakibatkan
perusahaan dibawah pimpinan PT. RAJAWALI NUSANTARA .
VISI : PT. MADU
BARU menjadi perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan petani
sebagai mitra sejati.
MISI :
1. Menghasilkan
gula dan ethanol yang berkualiatas untuk memenuhi permintaan masyarakat
industri di Indonesia
2. Menghasilkan
produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola
secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan yang prima kepada
pelanggan serta mengutamakan kemitraan degnan petani.
3. Mengembangkan
produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti.
4. Menempatkan
karyawan dan stake holders lainya sebagai bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan
pendapaian share holder values.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PG MADU KISMO
- Desain
awal 1.500 ton tebu perhari (tt)
- Tahun
1976 ditingkatkan lagi menjadi 2500 tth
- Tahun
1992 ditingkatkan lagi menjadi 3000 tth
- Tahun
2000 – sekarang berhasil mencapai hingga 3500 tth
Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh PS MADU KISMO
- Tahun
1976 awal 15.000 liter alcohol per hari
- Tahun
2002 ditingkatkan menjadi 25000 liter per hari
Susunan pegurus saat ini sebagai berikut :
1. Komisaris
Utama: GKR Pembayun
2. Komisaris
- Drs.
H. Sumargono Kusumohadiningrat
- Ir.
H. Bambang Sumardiko
3. Direktur: Ir. Rachmad Edi Cahyono, M.SI
4. General
Manager
- Struktur
Organisasi PT MADU BARU
- Struktur
Organisasi Penyelenggaraan
2.1.2 Produksi
Hasil produksi dari PG-PS maduksimo ini adalah produk
gula yang berkualitas dan Alkohol yang yang dapat digunakan sebgai bahan
kosmetik dan alkohol murni sebagai bahan kimia.
2.2 UPT BPPTK
LIPI Gunung Kidul
2.2.1
Sejarah tentang UPT
BPPTK LIPI
Unit
Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia-Yogyakarta, disingkat UPT BPPTK LIPI Yogyakarta, dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia nomor
1022/M/2002, tanggal 12 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK).
UPT BPPTK LIPI di Yogyakarta merupakan satuan kerja yang
dibentuk dengan peleburan ex UPT Bahan Baku dan Olahan Kimia (BBOK) LIPI yang
berada di 3 (tiga) lokasi: Lampung, Bandung dan Yogyakarta. Bagian dari UPT BBOK LIPI yang berkedudukan di
Lampung merupakan satuan kerja terbesar di antara ketiga satuan kerja di atas.
Kegiatan utama dari satuan tersebut adalah pertanian. Kegiatan utama satuan
kerja yang berada di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, diarahkan pada
pengembangan teknologi pengolahan pangan. Sub-satuan kerja yang berada di
Bandung merupakan pusat kegiatan administrasi dan beberapa percobaan
laboratorium.
Pembentukan
UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia pada dasarnya merupakan
peleburan ketiga sub-satuan kerja dari 3 lokasi dengan penekanan kegiatan yang
berbeda dapat menimbulkan dampak. Dampak tersebut perlu segera diantisipasi
agar satuan kerja yang baru dapat menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya secara
optimal. Tugas pokok UPT BPPTK mengacu pada LIPI yang memiliki tiga tanggung
jawab, yaitu:
1. kepada dunia ilmu pengetahuan
2. kepada masyarakat
3. kepada pemegang kepentingan
(stakeholders)
Penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dengan penekanan pada
pengembangan riset terapan untuk kepentingan masyarakat luas demi meningkatkan
kemampuan berkompetisi di era globalisasi dan pasar bebas. Pemantapan
organisasi UPT BPPTK LIPI untuk mengemban tanggung jawab tersebut adalah sangat
penting dilakukan oleh karena itu disadari perlu adanya sinergisme antar
program, antar proyek dan antar kegiatan. Namun demikian program/kegiatan
tersebut harus mempunyai fokus yang jelas dan tegas.
UPT
BPPTK sebagai salah satu unit eselon III di dalam organisasi LIPI menyusun Rencana
Implementatif yang memuat visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan arahan
program selama 5 tahun ke depan, yaitu tahun 2010 – 2014 untuk mengikuti,
merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
muncul baik di dalam maupun di luar negeri yang memerlukan pendekatan holistik
dan berjangka panjang.
Lokasi UPT BPPTK LIPI Yogyakarta ada dua yaitu Desa
Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berjarak sekitar 31,5 km
dari Yogyakarta dan Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu.
Sayur
kalengan buatan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta bisa jadi pilihan. Konsumen tidak
perlu takut makananan basi karena masa simpan makanan berkuah santan ini bisa
sampai 2 tahun. Teknologi ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 di Desa
Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul,Yogyakarta. Agar awet, proses pengalengan
sayur dilakukan dengan cara meminimalisir kontak udara dalam proses pengepakan.
Tanpa harus ada pengawetan bahan kimia. Menggunakan merek produk "Gading"
saat ini baru ada izin edar untuk empat jenis makanan yitu gudeg, mangut lele,
tempe kari dan sayur lombok ijo. Proses produksinya dilakukan oleh 6 tenga
kerja. Pendistribusian dilakukan oleh Koperasi LIPI Gading UPT BPPK LIPI
Yogyakarta.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Sayangnya, menurut salah seorang peneliti, Mukhamad Angwar, masih belum ada investor yang berminat untuk memperluas produksi. Saat ini produksi baru dilakukan berdasarkan pesanan dengan minimal pesanan 100 kaleng. Dibuat dalam kemasan kaleng 250 gr dan dijual dengan kisaran harga antara Rp 7.000 sampai dengan Rp 12.000. Tapi Angwar bangga produk ini sudah mendapat respons dari konsumen di luar negeri. Menu sayur tempe kari misalnya jadi langganan seorang dokter pada sebuah rumah sakit di Inggris. Sayur tersebut digunakan untuk terapi kanker para pasiennya. "Permintaan meningkat dari 2.000 kaleng menjadi 6.000 kaleng per bulan," ujar Angwar seperti dikutip Kompas.com. Dokter tersebut menjual 3 poundsterling atau sekitar Rp 48.000. per kaleng. Berarti dalam satu bulan total penjualan yang diterima dokter tersebut Rp 96 juta.
Hal ini menunjukkan sayur kalengan punya peluang besar untuk industri kuliner tanpa harus ada rumah makan. Kemasannya yang praktis membuat makanan ini mudah dibawa kemanapun. Saat ini makanan kalengan tersebut sudah dijual di beberapa tempat di Yogyakarta. Meskipun antusiasme konsumen domestik belum begitu terlihat.
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan berbagai teknologi tepat
guna yang bisa diaplikasikan di masyarakat. Beberapa teknologi tepat guna itu,
antara lain Simpanan dan Imbuhan Buatan Air Tanah atau yang lebih dikenal
SIMBAT dan teknologi pengalengan makanan. SIMBAT merupakan teknologi yang
berguna untuk menyimpan cadangan air. Sedangkan, teknologi pengalengan adalah
teknik mengawetkan makanan dengan mengurangi kontak udara dalam pengepakan
sehingga makanan tahan selama 2 tahun tanpa bahan pengawet. Kedua teknologi
tersebut akan dipaparkan dalam acara bertajuk Diseminasi Hasil Teknologi Tepat
Guna LIPI di Pusat Studi Zoologi Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI -
Cibinong Science Center (CSC) Cibinong Bogor pada Rabu, 23 April 2014.
Air
merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Namun,
pergantian musim yang mulai sulit diprediksi dan bencana seperti banjir dan kekeringan
menjadi ancaman terhadap ketersediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Puslit Geoteknologi LIPI melakukan
inovasi untuk merekayasa air tanah yang dapat digunakan sebagai persediaan.
“Teknologi SIMBAT dibuat dengan menggunakan kolam infiltrasi yang dilengkapi
dengan sumur injeksi untuk menyimpan air di dalam tanah. Semakin banyak sumur
injeksi dibuat, maka semakin besar air yang tersimpan di dalam tanah,” ujar
Prof. Dr. Edi Prasetyo Utomo, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI. Menurutnya,
teknologi ini sangat sesuai dipergunakan oleh institusi pemerintah, perusahaan
pengembang perumahan, apartemen, kondominium, pabrik, wilayah padat penduduk
dan daerah-daerah yang sulit air.
Keunggulan
teknologi SIMBAT tersebut, lanjutnya, adalah mampu menyimpan air yang memenuhi
baku mutu air bersih, mengurangi kekeringan di musim kemarau dan menyediakan
air tanah di saat puncak kebutuhan. Selain itu, SIMBAT dapat memperbaiki
kualitas air, menaikkan air tanah, perlindungan air tanah terhadap pencemaran,
mengurangi dampak lingkungan seperti banjir. “Secara ekonomi, SIMBAT dapat
menciptakan kemandirian suplai air bersih serta mendukung swasembada energi
mikrohidro di pedesaan,” tandas Edi.
Di lain
hal, LIPI melalui program Iptek untuk Daerah (Iptekda) sejak 2005 telah
menggulirkan teknologi pengalengan yang membuat makanan awet bertahun-tahun.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (BPPTK) LIPI, Hardi Julendra, M.Sc. mengatakan, prinsip utama teknologi
itu adalah menekan sesedikit mungkin terjadinya kontak udara pada tahap
pengepakan makanan. Makanan disterilisasi dalam kaleng dengan teknologi hampa
udara, suhu melebihi 121 derajat celcius dan tekanan 2 atmosfer. Pada kondisi
itu, bakteri dekomposer akan mati sehingga tidak membutuhkan bahan kimia
sebagai pengawet. Makanan yang telah dikalengkan antara lain gudeg, sayur
lombok ijo, tempe kari dan mangut lele. “Keunggulan membuat makanan kaleng ini
memiliki prospek bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Ulasan
lebih lanjut tentang berbagai hasil teknologi tepat guna tersebut akan dibahas
dalam Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI yang disertai Kunjungan
Bakohumas ke Museum Zoologi LIPI. Terkait kunjungan Bakohumas, Kepala Biro
Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Nur Tri Aries S, MA menambahkan,
kunjungan para humas pemerintahan ini dimaksudkan untuk menyebarkan informasi
kemajuan Iptek hasil penelitian LIPI. “Harapannya, acara ini menjadi salah satu
penggerak percepatan pembangunan melalui teknologi tang bersifat tepat guna,”
pungkasnya.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
PROSES PENGOLAHAN TEBU menjadi GULA di YOGYAKARTA
(PT.
MADU KISMO)
Kuliah
kerja lapangan (KKL) yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 April 2014. Tempat
yang pertama kita kunjungi adalah PT Madukismo di kota Yogyakarta yang mengolah
Tebu menjadi Gula. Setibanya disana kami disambut ramah oleh tuan rumah di PT
tersebut. Setelah itu kami memasuki aula untuk mengikuti acara yang menjelaskan
tentang latar belakang dari PT Madukismo sekaligus mengenalkan proses
pengolahan tebu menjadi gula secara singkat. Selesai kami mendapatkan gambaran
proses pengolahan gula kami dipandu utusan dari tuan rumah pT madukismo, karena
pada waktu itu kami datang kurang tepat waktunya, saat pengolahan tebu menjadi
gula secara langsung, kami hanya dijelaskan cara pengolahannya dan kegunaan
dari alat-alat yang ada di dalam pabrik itu. Namun Jika datang pada bulan Mei -
September, kami bisa menyaksikan proses produksi gula secara langsung.
Selanjutnya kami menuju ke lokasi pengolahan tebu menjadi gula tersebut,
transportasi yang kami gunakan adalah menggunakan kereta api tua, yang dahulu
sebenarnya kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen tebu.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi semakin meningkat.
Salah seorang pimpinan PT madukismo berfikir untuk memodifikasi kereta tersebut
menjadi kereta yang dapat digunakan untuk manusia bisa dinikmati usai mendapat
penjelasan tentang proses produksi. Kami
merasakan nuansa awal era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan
halaman luas, mesin-mesin kuno serta rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta
pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan itu. Pabrik ini menawarkan
kenikmatan berwisata yang berbeda dengan tempat lainnya. Seluruhnya dikemas
dalam Paket Agrowisata Madukismo,
Sejarah Pendirian PT Madu yang baru pada tahun 1955 oleh
Sri Sultan Humongkubowono yang ke-9, pada awalnya pabrik gula yang berhasil didirikan sebanyak 17
pabrik , namun pada masa penjajahan jepang semuanya hangus oleh tangan-tangan
jepang, setelah itu datang kontraktor jerman timur dan setelah itu berhasil
membuat pabrik alkohol dan 2 pabrik gula dibagian selata kecamatan Batul. Kabupaten Kasian , Yogyakarta. Luas area yang dimiliki PT Madu Kismo seluas
28 hektar. Awal modal yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Humongkubowono sebesar
75% sementara 25% milik pemerintah PT Raja Wali Indonesia. Mengenai produksi
Gula yang diproses dari tebu bisa dihasilkan 3 tahun stelah PT Madu Kismo
berdiri yaitu pada tahun 1958 menghasilkan 1500 ton tebu per hari, semakin
bertambah hari bertambah pula produksi tebu per tahunnya .pada saat ini tebu
yang dohasilkan mencapai 3500 ton per hari, dan pekerja di PT Madu kismo ini
sangat banyak menurut wakil pimpinan PT Madu Kismo bapak agus mengatakan bahwa
terdapat 4500 orang yang terdiri dari karyawan tetap sebanyak 422 orang,
karyawan managerial sebanyak 950 orang
dan sisanya adalah karyawan burom. PT madukismo ini memberikan fasilitas
terhadap karyawan tetap yang tentunya upah sudah pasti diberikan, fasilitas
yang lainnya adalah biaya kesehatan seluruh keluarga apabila tertimpa
sakit.kelebihan lainnya dari pt madukismo ini sehingga memiliki perbedaan pT
yang lainnya adalah memberikan sebagian hasil produksi gula berupa beasiswa
ditingkat SD-SMA selain itu membuka pengunjung atau peneliti yang masuk seperti
halnya kami.
Langkah-langkah
pengolahan tebu menjadi butiran gula
yang dapat dilihat berdasarkan skema di bawah ini:

(Sutrisnoman,2011)
1.penggilingan
Pada
proses penggilingan ini tidak semua Tebu siap untuk digiling tentunya ada
kriteria atau syarat-syarat tebu yang siap digiling. Pada saat panen dipilih
tebu yang sudah tua artinya dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa)
maksimal, dan kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan
analisa pendahuluan untuk mengetahui faktor kemasakan, koefisiensi daya tahan
dan lain lain. Ini dilakukan kira-kira 1,5bulan sebelum giling dimulai. selesai
memanen tebu kemudian dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan bagian padat
dengan cairannya yang mengandung gula melalui alat alat berupa unigratormark IV
dan cane knife digabung dengan lima gilingan. Ampas yang diperoleh sekitar 30%
tebu untuk bahan bakar di stasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah
akan dikirim ke bagian pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah
kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi di stasiun gilingan. Ampas
dari hasil penggilingan dimanfaatkan untuk menggerakan mesin sehingga
menghasilkan listrik. Selain itu
digunakan untuk bahan bakar kompor atas dasar pada saat itu subsidi minyak
tanah dicabut dan juga gas yang masih langka. Setelah ampas selesai dibakar
dimanfaatkan untuk bahan pembuatan batako, selanjutnya sebagian batako
diinfaqkan untuk pembuatan masjid. Bila dilihat dari sisi ini PT madukismo
Yogyakarta ini sangat memberikan manfaat yang berguna dan tidak menghasilkan
limbah. Karena pada dasarnya kebanyakan pabrik berujung bertambahnya limbah.
Karena ampas disini juga merupakan suatu limbah seperti yang dikatakan oleh
(yudo,2008) bahwa Serat ampas tebu (baggase) merupakan limbah organik yang
banyak dihasilkan di pabrik- pabrik pengolahan gula tebu di Indonesia. Serat
ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi selain merupakan hasil limbah
pabrik gula tebu, serat ini juga mudah didapat, murah, tidak membahayakan
kesehatan, dapat terdegredasi secara alami (biodegradability) sehingga nantinya
dengan pemanfaatan sebagai serat penguat
komposit mampu mengatasi permasalahan lingkungan. Dari pertimbangan diatas maka
penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik
dan impak dari komposit berpenguat serat ampas tebu (baggase) dengan perlakuan
pola anyaman variasi arah serat sudut arah serat sudut searah 00 dan
bersilangan 450. sebagai penguat matrik resin polyester. Dari hasil pengujian spesimen dilakukan
analisa kekuatan mekanis kemudian dibandingkan dengan nilai kekuatan mekanis
yang disyaratkan/diizinkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai tolak
ukur standar ujinya. Pengujian komposit berpenguat serat ampas tebu
membandingkan arah serat sudut 00 dan 450, perlakuan serat pola anyaman, fraksi
volume 44% matrik polyester dan 56% serat ampas tebu, dengan metode hand lay up,
hasil pengujian didapat harga kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit
dengan arah serat sudut searah 00. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan
tarik dan modulus elastisitas dari komposit berpenguat serat ampas tebu belum
dapat memenuhi standar kekuatan tarik dan modulus elastisitas yang disyaratkan
BKI yakni : untuk arah serat sudut searah 00 kekuatan tariknya sebesar 1.69
kg/mm2 dan modulus elastisitasnya sebesar 115.85 kg/mm2, untuk arah serat sudut
bersilangan 450 kekuatan tariknya sebesar 1.34 kg/mm2 dan modulus
elastisitasnya sebesar 108.40 kg/mm2.tapi kenyataanya ampas yang dikatakan
sebagai limbah PY madukismo mampu membuatnya menjadi sesuatunya yang sangat
bermanfaat.
2.Proses Ekstraksi
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap
dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya
pelarut organik. Langkah-langkah
Tahap pertama
pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. tebu dihancurkan dalam sebuah
serial penggiling putar yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan
serat tebu dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler).
sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada pengolahan gula bit.
Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor: sisa-sisa tanah dari lahan,
serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman, semuanya
bercampur di dalam gula.

(Ekstraksi gula)
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15%
gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1
hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang
terhitung sebagai “abu”. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana
untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk
tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.
3.Pemurnian
Hasil dari pemurnian akan
menghasilkan sulfilasi (gas belerang 2 air kapur) Pabrik dapat membersihkan jus
dengan mudah dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan
mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses
ini dinamakan liming.
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum
dilakukan liming untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa
kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan
perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian
dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier).
Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga
padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih
mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam
penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur
tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang
manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
4.Penguapan
(efaverator)
Setelah tebu melewati pemurnian langkah selanjutnya yaitu
penguapan, suhu yang digunakan pada proses penguapan PT madukismo 110˚C. Setelah
mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup dengan cara
menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses yang dinamakan
evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih
sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya pembersihan
lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung
15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan
dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam
‘evaporator majemuk' (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan
steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).
5.Pendidihan/Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan
ke dalam panci yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah
air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai.
Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam
sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan
induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan
menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan
dengan udara panas sebelum disimpan.

(Sentifugasi gula)
Larutan induk hasil pemisahan dengan
sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi
diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya
dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan
gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit,
sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi
dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw
sugar) umumnya dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan
“A” akan menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan “B”
membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci pengkristal
juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan terbentuk. Beberapa pabrik
melakukan pencairan ulang untuk gula B yang selanjutnya digunakan sebagai umpan
untuk pendidihan A, pabrik yang lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk
pendidihan A dan pabrik yang lainnya menggunakan cara mencampur gula A dan B
untuk dijual. Pendidihan “C” membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama
daripada pendidihan B dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai umpan untuk
pendidhan B dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak
dapat diekstrak semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct)
yang manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi
pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang
menyebabkan lokasi pabrik rum di Karibia selalu dekat dengan pabrik gula
tebu. Setelah itu membuat alkohol dari sirup yang menempel pada gula, bahan
yang digunakan penyedap rasa, NPK, H2SO4 semuanya
dicampurkan sehingga menjadi homogen dengan cara mengaduk. Setelah itu dilakukan
peragian yang mengguanakan bakteri atau virus selama 50 jam. Kemudian
penyulingan atau destilasi untuk menaikan kadar alkohol menjadi 95%. Alkohol
yang dihasilkan dari PT madukismo ini digunakan untuk kosmetik dan sebagai
bahan pada mata kuliah farmasi dikampus-kampus.
6.Penghilangan warna
Ada dua metoda umum untuk
menghilangkan warna dari sirup gula, keduanya mengandalkan pada teknik
penyerapan melalui pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan menggunakan karbon teraktivasi
granular [granular activated carbon, GAC] yang mampu menghilangkan
hampir seluruh zat warna. GAC merupakan cara modern setingkat “bone char”,
sebuah granula karbon yang terbuat dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat
ini terbuat dari pengolahan karbon mineral yang diolah secara khusus untuk
menghasilkan granula yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat.
Karbon dibuat dalam sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari
karbon. Cara yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang
menghilangkan lebih sedikit warna daripada GAC tetapi juga menghilangkan
beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi yang meningkatkan jumlah
cairan yang tidak diharapkan.
Cairan jernih dan hampir
tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali jika jumlahnya
sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan sebelum
diolah di panci kristalisasi.
7.Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai
pada keadaan yang tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula
ditambahkan ke dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika
kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang
dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses ini
dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin cuci yang
berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas
sebelum dikemas dan/ atau disimpan siauntuk didistribusikan.
Kunjungan selanjutnya adalah ke UPT BPPTK LIPI
yang bertempat di gunung kidul. Keberadaan upt bpptk lipi sangat bermanfaat
untuk setiap aspek kehidupan karena LIPI memiliki Visi sebagai berikut;
ISI LIPI adalah Menjadi lembaga ilmu
pengetahuan nasional berkelas dunia yang dapat mendorong terwujutnya kehidupan
bangsa yang adil, cerdas, kreatif,
integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang
humanis. Mengacu visi LIPI di atas, maka ditetapkan arah dan tujuan UPT BPPTK
LIPI yaitu menjadi satuan kerja yang unggul, profesional dan humanis dalam
pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang
proses dan teknologi kimia,pangan dan pakan, farmasi dan teknologi lingkungan.
Sedangkan Misi dari LIPI adalah
1. Menciptakan great science dan invensi yang dapat mendorong inovasi dalam rangka meningkatkan
daya saing perekonomian nasional
2. Mendorong
(meningkatkan) pemanfaatan pengetahuan dalam proses penciptaan good governance yang dapat memantapkan NKRI
3. Turut serta dalam
proses pencerahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan berdasarkan
prisip-prinsip ilmu pengetahuan dan kaidah etika keilmuan
4. Memperkuat peran
Indonesia (yang didukung ilmu pengetahuan) dalam pergaulan internasional
5. Memperkuat
infrasruktur kelembagaan (Penguatan manajemen dan sistem)
Sesuai dengan misi LIPI maka UPT BPPTK LIPI Yogyakarta
mempunyai kegiatan utama yaitu mengimplementasikan hasil-hasil penelitian untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Untuk mengoperasionalkan rencana ini, UPT BPPTK
LIPI Yogyakarta melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
1. Menumbuhkembangkan
budaya iptek serta meningkatkan kemampuan berbasis kompetensi di lingkungan UPT
BPPTK LIPI Yogyakarta. Turut berpartisipasi aktif dalam usaha menciptakan
masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).
2. Melaksanakan
pengembangan iptek dan implementasi hasil-hasil penelitian bidang proses
Pangan, Pakan, Teknologi Kimia dan Lingkungan dengan penekanan pada usaha peningkatan
nilai tambah bahan dan produk lokal, melaksanakan layanan jasa iptek untuk
menjawab permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Menjalin kerjasama
dengan para stake holders untuk pengembangan produk-produk unggul dengan daya komparatif dan
kompetitif dari bahan lokal.
4. Mengimplementasikan
iptek melalui mekanisme inkubasi Usaha skala Kecil dan Menengah (UKM).
5. Melaksanakan usaha
penguatan institusi melalui pengembangan sumber daya yang terencana dengan
memperhatikan perkembangan paradigma, kondisi serta daya dukung lingkungan.
Untuk melaksanakan Tugas dan Fungsi diatas ditekankan
pada pengembangan, pemanfaatan dan penerapan hasil penelitian di bidang proses
dan teknologi kimia, pangan, pakan, farmasi dan teknologi lingkungan. Fungsi
yang diselenggarakan pada dasarnya mencakup pengembangan, pengelolaan dan
penerapan hasil penelitian dalam bidang proses dan teknologi kimia untuk
kepentingan masyarakat luas.
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu
penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain
disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan berkurangnya
nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini merupakan salah satu
hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi yang ada di Gunung
Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan adanya korelasi
yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
Disana
terdapat 2 laboratorium yang terdiri dari:
1.laboratorium
pangan
Pembangunan ketahanan pangan di
Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang
pangan yang dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi
seluruh rumah tangga dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman
dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Sampai saat ini masih banyak rumah tangga yang belum
mampu mewujudkan ketersedian pangan yang cukup terutama dalam hal mutu/tingkat
gizi. Dalam hal ini keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar dalam
ketahanan pangan. Keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia
merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan konsumsi
masyarakat menuju pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Berbagai sumber
pangan lokal pada beberapa wilayah masih dapat dikembangkan untuk memenuhi
keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat pada wilayah yang bersangkutan.
Konsumsi pangan yang beranekaragam diharapkan dapat
memenuhi kecukupan gizi seseorang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Namun sekarang ini telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi sebagai bagian
dari perubahan gaya hidup. Terdapat kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan
siap saji dengan kalori tinggi, rendah kandungan seratnya. Adanya
ketidakseimbangan dalam pola konsumsi ini telah mendorong timbulnya berbagai
masalah kesehatan. Diet tinggi lemak dan tinggi kalori berkaitan erat dengan
peningkatan prevalensi obesitas yang sering menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyakit degeneratif di antaranya hiperkolesterol dan diabetes mellitus.
Kekurangan sumber nutrisi tertentu seperti asam folat dapat juga mengakibatkan
cacat bawaan pada bayi dan berbagai penyakit lainnya, selain itu kekurangan zat
besi dapat menimbulkan anemia yang mengganggu produktivitas.
Menyikapi hal tersebut, menjadi sangat perlu dilakukan
penelitian mengenai makanan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit
degeneratif tersebut. Dalam hal ini, penelitian pembuatan makanan sehat
dilakukan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Ketersediaan bahan pangan
lokal cukup berkesinambungan sehingga dapat terjaga keberlanjutan produksi
makanan sehat yang akan dilakukan.
Produk-produk pangan yang dikembangkan ini berasal
dari bahan pangan lokal hasil pertanian diantaranya yaitu umbi-umbian, pangan
sumber protein nabati (kacang-kacangan) dan rumput laut. Umbi-umbian merupakan
bahan pangan sumber karbohidrat. Makanan sehat yang dibuat dari umbi-umbian,
mengandung serat, indeks glikemik yang rendah serta senyawa aktif yang dapat
bermanfaat bagi para penderita diabetes mellitus. Kegiatan makanan fungsional
untuk penderita diabetes melitus merupakan kegiatan unggulan program pangan
yang bersinergi dengan salah satu kegiatan di Pusat Penelitian Kimia LIPI.
Bahan pangan lainnya yang dikembangkan yaitu
kacang-kacangan sebagai sumber protein. Bahan pangan sumber protein dipilih
mengingat fungsi protein yang sangat penting bagi tubuh. Dalam pembuatan
makanan sehat dari sumber protein nabati ini akan dilakukan optimasi proses,
termasuk proses fermentasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai cerna
protein dalam tubuh. Dengan demikian diperoleh makanan sehat dengan tingkat
kecernaan protein yang tinggi dalam tubuh sehingga dapat memperlancar
metabolisme. Untuk meningkatkan nilai gizi bahan pangan perlu diperkaya
misalnya dengan zat besi dan folat.
Selain itu, posisi geografis
Indonesia yang merupakan pertemuan berbagai patahan bumi dan jalur gunung
berapi di dunia, mengakibatkan frekuensi bencana alam berupa gempa bumi,
gelombang tsunami dan letusan gunung berapi di Indonesia cukup tinggi. Kondisi tersebut
menuntut sebuah budaya “sadar bencana” yang harus dikembangkan/diperkenalkan di
masyarakat. UPT BPPTK LIPI sebagai salah satu institusi IPTEK, memiliki
tanggung jawab dalam mengembangkan teknologi yang menunjang upaya “sadar
bencana” tersebut dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk kondisi bencana.

2.laboratorium pakan
Kebutuhan produk hasil ternak erat kaitannya dengan tuntutan adanya kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat
bagi konsumen. Tingginya kadar kolesterol dan beberapa asam lemak jenuh dapat
menjadi ancaman bagi kesehatan manusia sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kualitas hasil
ternak dengan pendekatan nutrisi (nutritional approach).Untuk menunjang capaian produk pangan asal ternak yang sehat dan
aman, perlu perhatian terhadap kuantitas dan kualitas bahan dan produk pakan.
Ketersediaan pakan baik secara kuantitas dan kualitas
merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan unggas maupun
ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan pakan ternak adalah sulitnya bahan
baku pakan, kadar zat makanan (nutrient) yang terkandung dalam bahan baku pakan rendah
kualitasnya sehingga belum memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasi keterbatasan rendahnya kualitas bahan pakan adalah dengan
pengembangan teknologi pengolahan pakan, peningkatan asupannutrient melalui pemberian suplemen pakan (feed supplement) dan peningkatan utilitas pakan dengan pemberian aditif pakan (feed
additive). Pemberian suplemen dan aditif
pakan ditujukan tidak hanya untuk mengejar aspek produktivitas ternak, namun
sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk ternak terhadap
konsumen.
Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi
pengolahan pakan adalah mencakup tiga aspek yaitu peningkatan kualitas pakan,
daya simpan dan nilai ekonomisnya. Mengingat sebagian besar bahan baku pakan
khususnya pakan ternak ruminansia bersumber dari limbah tanaman pangan dan
agroindustri, teknologi yang akan dikembangkan harus mampu mengatasi
keterbatasan bahan pakan, seperti kadar serat tinggi, rendahnya protein kasar
dan keberadaan senyawa toksik (racun) pada beberapa hijauan. Pengembangan
teknologi bahan pakan berserat tinggi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni
pengolahan secara mekanik dan pengolahan dengan fermentasi baik an aerob maupun semi aerob untuk
mendukung kemudahan aplikasi teknologi di tingkat peternakan rakyat dan
industri.
Pendekatan suplementasi pakan juga ditujukan untuk
mengatasi kekurangan beberapa unsur zat makanan
makro maupun mikro sehingga dicapai suatu keseimbangan (balanced
nutrient), sedangkan pemberian aditif pakan berperan dalam aktivasi dan
optimasi prosesabsorpsi zat makanan dalam sistem
pencernaan ternak. Melalui pendekatan pengolahan
pakan, pemberian suplemen dan aditif tersebut diharapkan optimasi produktivitas
ternak dapat meningkatkan efesiensi sekaligus kualitas produk ternak.
Kegiatan penelitian bidang pakan dan nutrisi ternak
dikategorikan dalam 2 kegiatan penelitian yaitu pengembangan bioaditive untuk meningkatkan pertumbuhan (growth promotor) dan mendukung sistem kekebalan (immunostimulator) dan modifikasi pakan (modified feed) untuk peningkatan nilai tambah produk ternak yang aman dan
sehat. Pembuatan bioaditive dilakukan dengan memanfaatkan
peranan bakteri asam laktat dengan kombinasi bahan organik yang mengandung
bioaktif yang memiliki aktivitas antimikrobia dan menstimulasi sistem kekebalan
tubuh ternak. Produk yang dihasilkan dari aplikasi produkbioaditive yang aman dan kaya akan nutrient esensial diharapkan akan memberikan kontribusi dalam penyediaan
bahan pangan hewani sebegai sumber protein utama, aman dan menyehatkan.
Integrasi peternakan dengan bidang pertanian lainnya
juga diarahkan pada suatu sistem budidaya peternakan yang ramah lingkungan (zero waste system). Kegiatan ini
mencakup pengelolaan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif dan biofertilizer yang nantinya diarahkan tidak hanya sekedar pupuk tunggal namun
juga pupuk yang memiliki spesifikasi terhadap tanaman dan bahan penangkal hama
dan penyakit tertentu. Fortifikasi pupuk dengan bahan-bahan alam akan
diintegrasikan dengan kegiatan program penelitian bahan alam dalam program
diseminasi dan implementasi IPTEK.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kerja kuliah lapangan ini adalah
1.
Para mahasiswa dapat
mendapatkan gambaran mengenai lapangan pekerjaan yang akan dijalaninya kelak.
Dalam jurusan Biologi, lapangan pekerjaanya tidak harus berada didalam
laboratorium, melainkan dapat dilakukan di luar laboratorium bahkan dapat
membuat lapangan pekerjaannya sendiri.
2.
Berbagai macam penelitian
yang ada di luar kampus dapat dijadikan sebagai sumber wawasan ilmu pengetahuan
untuk sebuah riset kecil bagi para mahasiswa sebagai peneliti.
3.
Laboratorium yang berada
di LIPI terdiri dari lab. Pangan, pakan, dan kimia lingkungan. Dan telah
dilakukan banyak penelitian yang mampu menghasilkan sesuatu yang baru salah
satu contohnya adalah gudeg yang dikemas dalam kaleng dan dapat bertahan hingga
2tahun.
5.2
Saran
Saran untuk kuliah kerja lapangan
selanjutnya harus lebih efektif, dan diusahakan untuk mengunjungi tempat yang
lebih dekat terlebih dahulu, karena dimalang ternyata juga ada UPT BPPTK LIPI
dan Pengolahan tebu menjadi gula, setelah kita mengetahui pengetahuan yang ada
di malang mengenai hal tersebut barulah kita kunjungi yang berada di luar
malang dengan begitu kita dapat membandingkan anatara keduanya
DAFTAR
PUSTAKA
Buckle, K.A dkk.2010.Ilmu Pangan.Jakarta:Penerbit
Universitas Indonesia
Muchtadi, Deddy.2010.KEDELAI:Komponen Bioaktif untuk Kesehatan.Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Penerbit Alfabeta.
Sutrisno. 2013. KAJIAN TINNING (Sn PLATING)
DALAM DUNIA
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
INDUSTRI. Jurnal Foundry.Vol. 3,No. 1,Hal. 19-24
Yudo, Hartono
dan Jatmiko Sukanto.2008.ANALISA TEKNIS KEKUATAN
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.
MEKANIS MATERIAL KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT AMPAS
TEBU (BAGGASE) DITINJAU DARI KEKUATAN TARIK DAN
IMPAK. KAPAL, Vol. 5, No.2.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar